Tingkat Elektabilitas Setiap Calon Gubernur dan Wakil Gubernur DKI Jakarta

15 Februari nanti Indonesia akan mengelar pemilihan kepala daerah atau Pilkada serentak di 101 daerah yaitu 7 provinsi 18 kota dan 76 kabupaten, artinya selain DKI Jakarta masih ada seratus daerah yang punya hajatan pilkada. Tetapi seluruh mata ternyata tertuju ke pilkada Ibu kota, inilah pilkada rasa pilpres.

Fakta data merangkum perjalanan pada kandidat DKI Jakarta dalam angka, Maret 2016 dalam survei LSI ( lingkaran survei indonesia ) elektabilitas Basuki Tjahja Purnama sebagai kandidat calon gubernur DKI Jakarta mencapai 59,3% jauh lebih besar di bandingan dengan 10 calon lain bila di gabungkan menjadi satu.

Total dukungan untuk 10 kompetitor lain diantaranya yaitu Yusril Ihza Mahendra, Tri Rismaharini dan Sandiaga Salahuddin Uno, bila di jumlah hanya 26,3%. Empat bulan berselang Juli 2016 masih hasil survei LSI elektabilitas Basuki Tjahja Purnama dan pasangannya Djarot Saiful Hidayat masih unggul walau turun menjadi 49,1%.

Temuan poltracking Indonesia mewawancarai 400 responden selama 6 – 9 September 2016 juga menunjukan secara individu, elektabilitas Ahok sebagai calon gubernur masih tetap unggul walau dengan beberapa simulasi, elektabilitas calon petahana 40,77% angka ini berdasarkan 20 kandidat gubernur tetapi ini sebelum pendaftaran resmi pasangan calon gubernur DKI Jakarta dan wakilnya ke KPU. sebelum vidio pidato Basuki Tjahja Purnama di depan warga kepulauan seribu tentang pembudidayaan ikan dan menyebut soal surat al-maidah ayat 51 pada 20 September beredar.

Setelah pendaftaran resmi para kandidat ke KPU sepanjang 25 September hingga 30 Oktober dari 7 survei lembaga yang di liris ke publik, pasangan nomor urut 2 Ahok – Djarot masih unggul. Dalam survei lingkaran survei Indonesia pada tanggal 26 – 30 September dengan 440 respondent Ahok – Djarot memperoleh 31,4% Anies – Sandiaga memperoleh 21,1% dan Agus – Sylvi memperoleh 19,3% Margin Of Errornya kurang lebih 4,8%, adapun survei populisenter pada 25 September – 1 Oktober 2016 dengan 600 respondent. Sebanyak 45,5% respondent memilih Ahok – Djarot, 23,5% memilih Anies – Sandiaga dan 15,8% memilih Agus – Sylvi .

Proporsi ini agak mirip dengan temuan Saiful Mujani Research & Consulting ( SMRC ) pada tanggal 1-9 Oktober 2016, Ahok – Djarot di posisi pertama dengan 44.4%, walau Ahok – Djarot masih di posisi pertama namun elektabilitasnya terus tergerus, apalagi setelah Ahok di laporkan ke polisi atas tuduhan penistaan agama pada 6 Oktober 2016.

Survei lingkaran survei Indonesia atau LSI Denny Ja pada 31 Oktober – 5 November 2016, dukungan untuk Ahok turun menjadi 24,6%, elektabilitas Ahok dapat merosot drastis menjadi 10,6% jika Ahok menjadi tersangka. Sementara 2 calon lainnya mendapatkan limpahan dukungan dari mereka yang meninggalkan pasangan Petahana, sebelum Ahok menjadi tersangka Agus – Sylvi mendapatkan 20,9% , namun setelah pertanyaan bila Ahok tersangka. Dukungan Agus – Sylvi meningkat menjadi 30,9% pertanyaan terbuka dan 32,3% pertanyaan tertutup.

Pasangan Anies – Sandi sebelum Ahok menjadi tersangka 20% setelah Ahok menjadi tersangka meningkat menjadi 31,9% pertanyaan terbuka dan 31,1% untuk pertanyaan tertutup, meski elektabilitas turun. Posisi Ahok – Djarot masih berada di posisi pertama, pengambilan data beririsan dengan aksi demo 4 November.

Setelah demo besar – besaran menuntu Ahok di adili 4 November lalu, elektabilitas Ahok semakin tergerus, segi poltracking 7 – 17 November dengan 1200 respon dan elektabilitas Agus – Sylvi tertinggi 27,92%, sedangkan pasangan Ahok – Djarot 22% dan Anies – Sandi 20,42%. Uniknya sama seperti survei sebelumnya, tingkat kepuasan publik terhadap Ahok masih tinggi yaitu 63,8% dan juga kinerja Djarot di nilai baik dengan di ganjar kepuasan 48,78%, Namun tingkat kepuasan yang tinggi tidak di ikuti dengan tingkat ke ektabilitas yang tinggi pula.

Hal ini juga di temukan dalam survei charta politika 63,3% pemilih puas atas kinerja pemerintah daerah provinsi DKI Jakarta, namun survei 17 – 24 November 2016 debngan 733 respondent mendapati Agus – Sylvi ada di urutan teratas dengan 29,5%.

Bagaimana tren elektabilitas calon akhir 2016, lingkaran survei Indonesia dan lembaga survei Indonesia merilis hasil sigi mengenai pemilihan gubernur DKI Jakarta 2017 mendatang dalam waktu berdekatan di Desember 2016. Namun hasil dari keduanya berbeda, lingkaran survei Indonesia pimpinan Denny Ja memperlihatkan pasangan Agus YudhoyonoSylviana Murni memperoleh dukungan tertinggi 33,6%, petahana Basuki Tjahja Purnama dan Djarot Saiful Hidayat di urutan kedua dengan mendapatkan 27,1% dan Anies Baswedan dan Sandiaga Salahuddin Uno 23,6%. Dalam survei lembaga Survei Indonesia, tingkat kepemilihan pasangan Ahok – Djarot cenderung meningkat di bandingkan pesaingnya, pasangan petahana meraih 31,8%.

Sementara survei Litbang Kompas pada Desember 2016 menunjukan elektabilitas Agus – Sylvi tercata paling tinggi 37,1%, posisi ini dibayangi ketat oleh pasangan petahana Ahok – Djarot yang mendapatkan 33%, di posisi ke-3 pasangan Anies – Sandi dengan potensi keterpilihan 19,5% dan tercatat respondent yang belum menentukan pilihan 10,4%.

Dari hasil segi kompas ini tingkat elektabilitas ke-3 pasang calon belum berada pada posisi dominan menguasai separuh potensi suara pemilih, dengan angka margin error kurang lebih 3,64% potensi elektabilitas Agus – Sylvi masih ber irisan dengan potensi elektabilitas Ahok – Djarot, rentang potensi elektabilitas kedua pasang calon ini ada di angka 33,64% – 36,46%, artinya kedua pasang calon masih berpeluang memperoleh suara dalam rentang irisan rangka elektabilitas ini.